29/07/2010 : Wall Street Minus Gara-gara Proyeksi The Fed
Kamis, 29/07/2010
Wall Street Minus Gara-gara Proyeksi The Fed
Nurul Qomariyah - detikFinance
Bursa Wall Street akhirnya berakhir di teritori negatif setelah Bank Sentral AS melaporkan sinyal-sinyal melemahnya pemulihan ekonomi. Sentimen negatif juga datang dari data-data pesanan barang tahan lama yang lebih rendah dari ekspektasi.
Federal Reserve Beige Book, yang merupakan rangkuman dari kondisi perekonomian nasional AS menyatakan soal perlambatan pemulihan ekonomi AS di beberapa negara bagian. Laporan itu akan digunakan sebagai acuan dari pertemuan Bank Sentral AS berikutnya pada 10 Agustus mendatang.
Sentimen negatif lainnya datang setelah Departemen Perdagangan AS merilis data permintan baru barang-barang pabrikan tahan lama seperti pesawat, mobil, kulkas dan komputer yang turun hingga US$ 2 juta atau 1% dari bulan sebelumnya.
Berbagai sentimen negatif itu dimanfaatkan investor untuk mengambil untung setelah kenaikan saham-saham yang cukup besar sebelumnya.
"Dengan rally yang cukup baik, maka sepertinya para pengambil keuntungan mengambil posisi dan Beige Book menjadi pemicunya," ujar Ryan Detrick, analis senior dari Schaeffer's Investment Research seperti dikutip dari Reuters, Kamis (29/7/2010).
Pada perdagangan Rabu (28/7/2010), indeks Dow Jones tercatat melemah 39,81 poin (0,38%) ke level 10.497,88. Indeks Standard & Poor's 500 juga melemah 7,72 poin (0,69%) ke level 1.106,12 dan Nasdaq melemah 23,69 poin (1,04%) ke level 2.264,56.
"Pendapatan perusahaan-perusahaan sudah cukup bagus, namun secara keseluruhan perekonomian masih belum mencapai terbaiknya dan belum kembali seperti kita harapkan," imbuhnya.
Sejauh ini menurut Thomson Reuters Proprietary Research, dari 49% perusahaan yang masuk dalam S&P 500 dan telah mengeluarkan laporan keuangan, 77% diantaranya berhasil melampaui ekspektasi.
Namun perdagangan berjalan sangat tipis dengan transaksi di New York Stock Exchange hanya sebesar 7,11 miliar lembar saham, di bawah rata-rata tahun lalu yang sebesar 9,65 miliar.
Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin ditutup menguat 15 poin hingga berhasil menembus rekor terbarunya. IHSG menguat bersamaan dengan penguatan bursa-bursa regional lainnya berkat dorongan sentimen positif laporan keuangan.
Pada perdagangan Rabu (28/7/2010), IHSG akhirnya ditutup menguat 15,797 poin (0,52%) ke level 3057,475. Indeks LQ 45 juga menguat 0,829 poin (0,14%) ke level 588,638.
Setelah penguatan yang cukup spektakuler dalam beberapa hari terakhir, ruang gerak IHSG makin sempit. Investor akan terus mencermati laporan keuangan emiten yang sejauh ini memberikan gambaran cukup baik. IHSG pada perdagangan Kamis (29/7/2010) diprediksi akan bergerak mixed dengan kecenderungan melemah.
Koreksi juga menyambangi Bursa Wall Street setelah Bank Sentral AS melaporkan sinyal-sinyal melemahnya pemulihan ekonomi. Sentimen negatif juga datang dari data-data pesanan barang tahan lama yang lebih rendah dari ekspektasi.
Pada perdagangan Rabu (28/7/2010), indeks Dow Jones tercatat melemah 39,81 poin (0,38%) ke level 10.497,88. Indeks Standard & Poor's 500 juga melemah 7,72 poin (0,69%) ke level 1.106,12 dan Nasdaq melemah 23,69 poin (1,04%) ke level 2.264,56.
Berikut rekomendasi saham untuk hari ini:
Panin Sekuritas:
IHSG naik menembus rekor tertinggi baru mengikuti kenaikan bursa regional Asia dan Eropa yang dibuka menguat. Sentimen positif dari hasil kinerja semester 1 menjadi katalis positif bagi bursa regional. Hari ini kami perkirakan indeks akan bergerak mixed dengan kecenderungan menguat. Seiring dengan terbatasnya ruang kenaikan bagi saham bluechip, investor diperkirakan mulai mengincar saham-saham second liner. Kami proyeksikan IHSG akan bergerak pada kisaran support-resistance 3.049-3.072.
eTrading Securities:
IHSG ditutup menguat 15 point (+0.51%) setelah sempat menguat hingga 30 point lebih dan mengenai level resistance di kisaran 3064 dan asing masih melakukan net buys sebesar 250 milliar dan sector yang menjadi penggerak pada hari ini antara lain cement, infrastructure dan telekomunikasi, RSI dan Stochastic masih memperlihatkan tanda overbought sehingga masih tetap berhati hati terhadap profit taking, pada hari ini IHSG akan mendapat sentiment dari data durable good dari amerika dan IHSG akan berada dalam kisaran 3015 – 3090 dan saham – saham yang dapat diperhatikan antara lain ADHI, TLKM dan AKRA.
Erdikha Sekuritas:
IHSG ditutup menguat 15.80 point menjadi 3057.48 (0.52%). Penguatan saham-saham sektor Property, Infrastruktur, dan Ragam industri menjadi salah satu penopang kenaikan indeks. Secara teknikal pergerakan indeks diperkirakan mixed, dengan kecenderungan positif terbatas. Indeks diperkirakan bergerak pada kisaran 3012-3080. Pergerakan saham-saham property masih layak untuk diperhatikan.
INILAH.COM, Jakarta - Pergerakan IHSG pada perdagangan Jumat (30/7) ada kemungkinan melanjutkan rally meskipun saham unggulan sudah jenuh beli. Indeks akan bergerak di kisaran 3.076-3.117.
Demikian dikatakan analis saham Panin Sekuritas, Purwoko Sartono kemarin. "Terbuka kemungkinan rally ini akan dapat terus berlanjut meski disisi lain beberapa saham unggulan sudah mulai memasuki area jenuh beli. Kami proyeksikan kisaran support-resistance hari ini 3.076-3.117," katanya.
IHSG kembali membentuk rekor baru menyusul euforia hasil kinerja semester 1. Kenaikan IHSG terjadi disaat sebagian bursa regional bergerak melemah akibat laporan yang menyebutkan melambatnya pemulihan ekonomi global.
Secara teknikal, IHSG kemarin berhasil menembus resistance 3.070 sekaligus meninggalkan area konsolidasi. IHSG pada perdagangan kemarin ditutup di level 3.096,82 atau naik 39,34 poin dengan nilai transaksi Rp2,7 triliun. [hid]
INILAH.COM, Jakarta - Bursa pada perdagangan Jumat (30/7) masih berpeluang menguat. Saham penggerak berasal dari komoditas tambang dan perkebunan, dengan pilihannya BUMI, ADRO dan BISI.
Analis pasar modal dari Lautandhana Sekuritas Willy Sanjaya mengatakan, indeks hari ini masih akan menguat, sehingga investor bisa memanfaatkannya untuk trading. “Hal ini didukung kinerja beberapa emiten pada kuartal pertama 2010 yang positif,” katanya kepada INILAH.COM.
Menurutnya, dua pekan ini indeks terus menguat, meski kondisi bursa jenuh beli. Hal ini karena faktor aliran dana asing yang sangat besar. Ia menilai, saat ini tidak ada pilihan lain bagi investor asing untuk penempatan dana, kecuali di emerging market, dimana Indonesia menjadi pilihan prioritas setelah China.
Hal ini tak mengherankan, mengingat fundamental ekonomi RI merupakan yang terbaik setelah China. Apalagi Ben Bernanke sempat mengatakan bahwa pemulihan ekonomi AS belum pasti dan Eropa belum benar-benar keluar dari krisis. Dengan demikian, untuk jangka pendek, masih ada penguatan, sementara untuk jangka menengah, aliran dana asing masih terus masuk. “Ini berari tipis peluangnya bagi indeks untuk terkoreksi,” katanya.
Adapun dana yang masuk ke obligasi dan saham ini merupakan dana panas yang bersifat jangka pendek, sehingga akan cepat keluar. Didukung price earning (PE) market yang semakin mahal dan belum adanya kesempatan koreksi, kondisi ini menimbulkan kekhawatiran. “Bahwa kalau ekonomi AS mulai stabil, akan menyebabkan kajatuhan bursa yang sangat dalam,” paparnya.
Willy pun menyarankan investor yang melakukan perdagangan jangka pendek, untuk memilih saham alternatif ke second dan third liner, mengingat saham blue chips saat ini sangat mahal. Sedangkan pilihan lainnya adalah berharap pada saham Bakrie.
Menurutnya, hanya grup Bakrie yang belum mengikuti kenaikan bursa ke level 3.000. Emiten di grup ini masih terus tertekan berita yang dihembuskan ke pasar. Jadi, kalau ingin realistis, saham Bakrie belum naik. “Hanya ini yang bisa menopang penguatan bursa,” imbuhnya.
Saham Bakrie pilihannya adalah PT Bumi Resources (BUMI). Sedangkan terkait potensi bahwa sektor komoditas tambang dan perkebunan yang menjadi pengerak (mover) bursa, Willy juga merekomendasikan saham PT Adaro Energy (ADRO) dan BISI. ”Kedua emiten ini masih akan menguat hari ini,” ujarnya.
Ia menuturkan, saham BISI menarik, seiring kenaikan PT Indofood (INDF) yang sudah sangat tinggi. Dengan pergerakan yang mirip antara kedua emiten tersebut , BISI bisa menjadi alternatif untuk investasi. "Mengingat BISI pernah bergerak di level 2.000-an, maka di tengah peralihan dari INDF, BISI bisa naik di atas 2.000,” pungkasnya.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Kamis (29/7) ditutup naik 39,34 poin (1,29%) ke level 3.096,82. Volume perdagangan mencapai 4,7 miliar lembar saham dengan nilai Rp3,6 triliun.
Pergerakan indeks diwarnai dengan 152 saham naik, 81 saham masih menguat dan 66 saham stagnan. Indeks saham JII naik 6,7 poin ke 486,89 dan LQ45 naik 8,2 poin ke 596,84. [mdr]
02/08/2010 - Saham Pilihan Pekan Ini ASII, TLKM, HEXA, UNTR, JPFA, JSMR
02/08/2010
IHSG Pekan Ini Siap Melaju ke 3.200
Ahmad Munjin
INILAH.COM, Jakarta - Meski valuasi tinggi, indeks saham bertenaga untuk tetap menguat. Sebab, arus capital inflow masih mengalir deras. Hanya faktor inflasi yang jadi sedikit sandungan.
Ukie Jaya Mahendra, Direktur Paramitra Alfa Securities mengatakan, masih adanya potensi penguatan indeks saham pekan ini, salah satunya karena faktor capital inflow yang masih deras ke pasar domestik di pekan lalu. Artinya, menurut Ukie, asing masih terus masuk ke bursa.
Sementara itu, investor asing biasanya masuk untuk jangka panjang sehingga tidak mungkin langsung ‘kabur’ di pekan ini. Itulah alasan mengapa indeks masih tetap menyimpan kekuatan terus menguat. “Meskipun valuasi indeks sudah relatif tinggi di level 15,2 kali,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Jumat (30/7).
Dalam sepekan ke depan, Ukie memperkirakan, IHSG ^JKSE akan bergerak dalam kisaran support 3.000 dan resistance 3.124. “Sedangkan untuk Senin (2/8) awal pekan, indeks akan melaju dalam rentang support 3.050 dan 3.104 sebagai level resistance-nya,” ujarnya.
Pada perdagangan Jumat (30/7), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG ) ditutup melemah 27,536 poin (0,89%) ke level 3069,280. Demikian pula indeks saham unggulan LQ45 yang melemah 6,911 poin (1,16%) ke level 589,925.
Lebih jauh, Ukie mengatakan, pada saat indeks melemah akhir pekan lalu, net sell hanya mencapai Rp20 miliar. Angka ini, dinilainya tidak signifikan dibandingkan net buy. Sebab, net buy sehari sebelumnya mencapai Rp1,2 triliun.
“Artinya, tekanan beli sebenarnya masih lebih tinggi daripada tekanan jual,” paparnya. Ini juga berarti, koreksi indeks di pekan lalu, hanya faktor profit taking setelah indeks memecahkan rekor tertinggi dalam sejarah dengan level tertingginya 3.104,08.
Potensi penguatan indeks, lanjut Ukie, juga dipicu penguatan nilai tukar rupiah yang sudah menembus level psikologis 9.000. Akhir pekan lalu, mata uang RI ini menguat ke level 8.933/8.943 per dolar AS. Alhasil, rupiah sudah membentuk ekuilibrium penguatan baru. “Ini semakin memperkuat argumen masih derasnya arus capital inflow ,” imbuh Ukie.
Namun, Ukie menambahkan, yang dikhawatirkan pasar saat ini, adalah inflasi Juli yang berpeluang naik. Angka inflasi Juli yang dirilis awal pekan ini Juli mencapai 1%. Inflasi ini bisa memicu profit taking di awal pekan sehingga indeks saham berpotensi melemah.
“Tapi, saya yakin hingga akhir pekan indeks akan menguat,” timpal Ukie. Sebab, indeks mendapat topangan dari invesment grade RI yang naik. Apalagi, kinerja emiten di kuartal kedua cukup positif seiring membaiknya perekonomian Indonesia .
Karena itu, dengan membaiknya kinerja, peluang untuk mendapat dividend yield pun semakin besar. “Dilihat dari sisi keamanan investasi pun pasar melihat positif,” timpalnya.
Karena itu, Ukie berkeyakinan, indeks akan terus menguat hingga mencapai level 3.200. “Setelah level ini dicapai, baru indeks akan mengalami pembalikan arah (reversal) pada tren pelemahan,” ungkapnya.
Adapun sektor saham penggerak indeks pekan ini adalah telekomunikasi, alat berat, dan infrastruktur. Beberapa saham pilihan Ukie adalah PT Astra Internasional (ASII), PT Telkom (TLKM), PT Hexindo Adiperkasa (HEXA), PT United Tractors (UNTR), PT Japfa Confeed Indonesia (JPFA), dan PT Jasa Marga (JSMR). “Saya rekomendasikan trading buy saham-saham tersebut,” pungkas Ukie. [mdr]
02/08/2010 - Saham Pilihan ASII, UNTR, INTP, BRPT, SMRA
EKONOMI
02/08/2010
Potensi 'Trading Buy' Saat Koreksi
Natascha & Asteria
INILAH.COM, Jakarta – Awal pekan ini, bursa domestik diperkirakan akan melanjutkan pelemahan. Namun, masih ada potensi trading buy dengan trailing stop untuk saham-saham unggulan.
Vice President, Research & Analysis Valbury Securities Nico Omer Jonckheere mengatakan, indeks hari ini berpeluang melemah. Semua faktor menunjukkan bursa rentan koreksi, terindikasi dari indikator teknikal yang jenuh beli dan valuasi yang tinggi. “Hati-hati dengan kenaikan indeks karena saat ini sudah overbought dengan valuasi di atas 20 kali,” ujarnya kepada INILAH.COM,, kemarin.
Menurutnya, pasar saat ini masih menunggu koreksi yang besar. Namun, trigger-nya belum muncul. Salah satunya karena indeks Dow Jones yang bertahan di atas 10.000. Ia menilai, sebenarnya Wall Street masih berpeluang turun karena masih dalam tren head and shoulder di 9.800. “Bila Dow tembus 9.800, indeks Asia akan jatuh. Terutama karena korelasi indeks regional dan Dow Jones yang sangat erat,” ucapnya.
Adapun potensi Dow Jones menembus level 9.800 sangat besar. Terindikasi dari pelambatan ekonomi AS pada semester dua 2010. Terkait hal tersebut, imbuhnya, meski ada kenaikan di Bursa Efek Indonesia, investor sebaiknya menggunakan trailing stop, yakni melepas saham yang turun dari total profit di hari yang sama untuk mengamankan profit.
“Trailing stop ini bisa dikatakan menaikkan stop loss. Misalnya, investor semula berharap gain 10%, sekarang tidak perlu sampai 10% sudah lepas. Trailing stop ini mengikuti pergerakan IHSG, sehingga investor untuk jangka pendek, sebaiknya mengikuti pola,” katanya.
Di tengah situasi seperti ini, Nico menyarankan beberapa saham seperti PT Astra International (ASII), PT United Tractors (UNTR), PT Indocement Tunggal Prakarsa (INTP), PT Summarecon Agung (SMRA ) dan PT Barito Pacific (BRPT). “Investor sebaiknya trading buy dengan trailing stop untuk saham-saham ini,” pungkasnya.
Pada perdagangan Jumat (30/7), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 27,536 poin (0,89%) ke level 3069,280. Perdagangan di Bursa Efek Indonesia sangat ramai, dimana volume transaksi tercatat 6.063 miliar lembar saham, senilai Rp3,267 triliun dan transaksi 125.309 kali. Sebanyak 87 saham naik, 126 turun dan 64 saham stagnan.
Penurunan bursa didukung aksi jual asing yang mencatatkan transaksi jual bersih (net foreign sell) sebesar Rp21 miliar. Rinciannya adalah nilai transaksi jual mencapai Rp879 miliar dan nilai transaksi beli mencapai Rp858 miliar. [mdr]
Rabu, 04/08/2010
Rekomendasi Saham
IHSG Masih Belum Kuat Melangkah
Nurul Qomariyah - detikFinance
Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin akhirnya terpuruk tajam hingga di bawah level 3100. Kabar seputar redenominasi digabungkan dengan sentimen tingginya inflasi membuat investor untuk sementara memilih keluar dari pasar saham.
Pada perdagangan Selasa (3/8/2010), IHSG ditutup anjlok 85,323 poin (2,78%) ke level 2.973,656. Indeks LQ 45 juga melemah tajam 18,158 poin (3,09%) ke level 568,110.
Potensi koreksi IHSG masih ada di tengah bursa-bursa utama dunia yang juga sedang melemah. Investor akan menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia untuk mencari petunjuk soal arah kebijakan moneter kedepan setelah kemarin BPS mengumumkan angka inflasi yang cukup mengejutkan.
IHSG pada perdagangan Rabu (4/8/2010) diprediksi akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah tipis.
Bursa Wall Street akhirnya mengalami koreksi setelah sebelumnya melonjak tajam. Kombinasi antara laporan keuangan Procter & Gamble Co dan data belanja konsumen serta perumahan yang mengecewakan membuat Dow Jones ditutup melemah.
Pada perdagangan Selasa (3/8/2010), indeks Dow Jones melemah 38 poin (0,36%) ke level 10.636,38. Indeks Standard & Poor's 500 juga melemah 5,40 poin (0,48%) ke level 1.120,46 dan Nasdaq melemah 11,84 poin (0,52%) ke level 2.283,52.
Sementara Bursa Jepang juga dibuka langsung mengalami koreksi. Indeks Nikkei-225 mengawali perdagangan Rabu ini dengan penurunan 87,19 poin (0,87%) ke level 9.609,58.
Berikut rekomendasi saham untuk hari ini:
Panin Sekuritas:
Kekhawatiran inflasi yang akan terus meningkat serta wacana redenominasi rupiah menjadi sentimen negatif yang mendorong indeks turun pada perdagangan kemarin. Hal tersebut menjadi alasan bagi investor untuk melanjutkan aksi ambil untung. IHSG ditutup turun pada posisi 2.973,656 (-2,78%). Kami perkirakan indeks akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada hari ini. Proyeksi support-resistance 2.940-2.996.
eTrading Securities:
IHSG pada hari ini melemah 85 point (-2.79%) dikarenakan aksi profit taking yang terjadi pada market, terlihat pada hari ini asing melakukan penjualan sebesar 600 milliar di regular market dan terlihat tekanan jual paling besar pada hari ini ada pada ASII, dari stochastic dan RSI terlihat telah keluar dari area overbought walaupun belum terlihat adanya tanda-tanda reversal dan pada hari ini IHSG ditutup di kisaran support 2971, pada hari ini IHSG berada dalam kisaran 2942 – 3000.
Bookmarks